PENYAKIT TUBERCULOSA (TBC) PARU

Kuman TBC Jagoan Bersembunyi

PENYAKIT paru-paru yang amat ditakuti, tuberkulosis atau TBC ternyata terus mewabah di seluruh dunia. Organisasi kesehatan dunia-WHO memperkirakan, sekitar dua miliar penduduk dunia terfinfeksi TBC. Namun hanya lima sampai 10 persennya yang menunjukan gejala sakit. Sisanya, walaupun dalam tubuhnya mengeram Mycobacterium tuberculosis, tetap tidak menunjukan gejala sakit. TBC dapat bersembunyi di dalam tubuh manusia tanpa terdeteksi.

Gelombang baru wabah penyakit TBC muncul bersamaan dengan wabah penyakit AIDS, serta runtuhnya Blok Timur. Terutama di bagian selatan Afrika, wabah AIDS sudah menjadi masalah besar, TBC juga semakin luas. Masalah yang kini dihadapi adalah penyakit TBC yang kebal beberapa jenis obat antibiotika primer. Sementara kaitan antara AIDS dan TBC, serta penyakit TBC yang mengembangkan multi-resistensi, menyebabkan wabah penyakit paru-paru ini kembali menyerang.

TBC Multiresisten

Penyakit TBC yang kebal beberapa jenis obat antibiotika, menyebar dari kawasan Eropa timur ke kawasan lainnya di dunia. Penyebab multi-resistensi adalah mudahnya memperoleh obat antibiotika, sehingga memicu penggunaan secara tidak rasional. Dengan begitu, bibit penyakit TBC yang belum dapat dimusnahkan oleh satu jenis antibiotika, sudah dihentikan pengobatannya, karena penderita merasa lebih sehat. Ketika penyakit kambuh lagi, obat pertama sudah tidak mempan, sehingga terpaksa digunakan obat kedua, tapi dengan pola pengobatan yang tetap tidak rasional. Akibatnya, penyakit TBC mengembangkan kekebalan terhadap beberapa jenis antibiotika.

Penelitian yang dilakukan pusat pengendalian penyakit menular di Amerika Serikat menunjukan, sekitar 7,7 persen kasus TBC kebal terhadap antiobiotika Isoniazid, obat primer untuk pengobatan tersebut. Sekitar 1,3 persennya bahkan kebal dua jenis antibiotika primer, yakni Isoniazid dan Rifampin. Yang menarik, sekitar 30 persen penderita TBC yang multi-resisten itu berasal dari kota besar seperti New York dan California.

Yang lebih mengerikan lagi, organisasi kesehatan dunia WHO memperkirakan, jika tidak diperangi secara efektif, sekitar 50 juta penduduk dunia akan terinfeksi penyakit TBC yang multi-resisten tersebut. Selain itu, strain TBC yang multi-resisten, dapat ditularkan dengan cara biasa, yakni melalui udara. Juga diamati, terjadinya penularan TBC multi-resisten di sejumlah rumah sakit di New York dan California. Penularan di rumah sakit yang disebut kasus nosokomial itu, menyebabkan meninggalnya sejumlah perawat kesehatan dan sejumlah pasien yang terinfeksi virus HIV.

Jagoan Bersembunyi

Penelitian para ilmuwan, menunjukan TBC dapat bersembunyi di dalam tubuh manusia tanpa terdeteksi. Itulah sebabnya, walaupun WHO memperkirakan, sekitar sepertiga populasi penduduk dunia terinfeksi TBC, hanya sekitar lima sampai 10 persennya yang menunjukan gejala sakit. Bibit penyakit TBC, Mycobacterium tuberculosis dijuluki jagoan bersembunyi. Karena mampu menyembunyikan diri di dalam sel untuk waktu sangat lama, tanpa terlacak sistem kekebalan tubuh. Inilah yang menyebabkan pemberantasannya secara global amat sulit. Tapi bagaimana mekanismenya, hingga bibit penyakit TBC itu bisa bersembunyi bertahun-tahun tanpa diketahui? Padahal biasanya sistem pertahanan tubuh yang disebut makrophagus, langsung menghancurkan benda asing yang masuk.
Rahasia inilah yang sekarang terus diteliti secara intensif oleh Jean Pieters peneliti dari Universitas Bassel di Swiss. Sebetulnya Pieters mula-mula tidak secara khusus meneliti TBC. Ia melakukan penelitian, bagaimana proses transpotrasi di dalam makrophagus berlangsung. Tiba-tiba saja, Pieters harus menghadapi perilaku menakjubkan dari Mycobacterium tuberculosis ini. Dari penelitian diketahui, sejenis enzym yang disebut protein-kinase terlibat dalam proses transportasi dalam makrophagus.

Enzym yang sama, ternyata juga terdapat dalam bakteri TBC. Jumlahnya bahkan mencapai 11 jenis protein-kinase yang berbeda-beda. Hal itu ditunjukan dari peta genom Mycobacterium TBC yang berhasil dibuat tahun 1998 lalu. Yang amat menarik, pada bakteri, protein-kinase tidak memiliki fungsi penting. Sementara pada organisme berderajat lebih tinggi, enzym ini memainkan peranan penting dalam proses regulasi dalam sel. Pieters dan tim penelitinya menduga, bakteri TBC memanfaatkan keberadaan protein-kinasenya, untuk mencegah transportasi ke Lysosome yang berfungsi sebagai mesin penghancur benda asing.

Protein-Kinase Blocker

Berdasarkan dugaan itu, para peneliti di Universitas Basel, melakukan ujicoba menekan aktivitas protein-kinase pada makrophagus yang terinfeksi TBC. Hasilnya, dengan cepat bakteri TBC ditransportasikan ke Lysosome dan dihancurkan. Setelah keberhasilan pertama, para peneliti di Universitas Basel melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui enzym yang mana dari 11 protein-kinase pada bakteri TBC yang memainkan peranan menentukan. Dengan cepat ditemukan dua jenis enzym yang berada dalam bentuk bebas, sementara sembilan lainnya terikat pada membran sel.
Salah satu enzymnya tersebut yakni protein-kinase G, ternyata memiliki kemiripan besar dengan protein-kinase pada binatang menyusui, yang berperan pada transportsai dalam makrophagus. Ujicoba lebih lanjut pada Mycobacterium Bovis-BCG, yang digunakan sebagai vaksin TBC, dengan memotong gen yang bertanggung jawab untuk pembentukan protein-kinase G, menunjukan bakteri BCG ternyata langsung dikirim ke Lysosome untuk dihancurkan.

Dengan diketahuinya mekanisme persembunyian bakteri TBC, para peneliti di Basel mengharapkan dapat mengembangkan terapi baru, untuk memberantas TBC yang multi-resisten terhadap antiobiotika. Kelompok Pieters sudah menjalin kerjasama dengan fabrik farmasi, untuk mengembangkan inhibitor protein-kinase G dengan cara rekayasa genetika. Memang belum diketahui, bagaimana keampuhan cara baru itu untuk memerangi TBC yang multi-resisten.

Peneliti lainnya dari Universitas British Columbia di Kanada, Yosef Av-Gay menunjukan, pemotongan gen protein-kinase G pada tikus percobaan, hanya menunda munculnya gejala penyakit TBC, tetapi tidak dapat mencegahnya. Juga ujicoba di Universitas Basel sejauh ini dilakukan terhadap vaksin BCG, bukan pada Mycobacterium tuberculosis sebenarnya. Menanggapi hal itu, tim peneliti dari Basel mengatakan, fokus penelitian mereka tetap pada transportasi di dalam makrophagus. Sejauh hasil penelitiannya positif untuk menyingkap mekanisme, yang dapat mencegah penyakit TBC, hal itu akan diteruskan. Karena sumbangan ilmiah sekecil apa pun, untuk memberantas wabah penyakit itu, tetap sangat berharga.

Adapun wawancara yang telah kita lakukan yaitu,
Tuberculosa Paru (TB Paru) Pencegahan dan Pengobatan
Apakah Tuberculosa Paru itu?
• Tuberculosa Paru adalah penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja
• Di Indonesia merupakan penyebab kematian no. 2
• Dari setiap 100 penduduk Indonesia, 3 – 6 orang menderita TB Paru

Apa Penyebabnya
Disebabkan oleh kuman (bakteri) yang hanya dapat dilihat dengan kaca pembesar (mikroskop)

Apakah dapat disembuhkan?
Agar dapat disembuhkan:
• Minum obat teratur sesuai petunjuk
• Menghabiskan obat sesuai waktu yang ditentukan (6 – 12 bulan)
• Makan makanan bergizi
Untuk mengetahui seseorang sakit tuberculosa paru periksakan dahak ke laboratorium di puskesmas / RS

Kapan seseorang perlu diperiksa dahaknya
Seseorang perlu diperiksa dahaknya apabila:
• Batuk berdahak selama 3 minggu atau lebih
• Batuk dengan dahak mengandung darah

Apa akibatnya bila minum obat tidak teratur
Kuman-kuman yang ada didalam tubuh akan menjadi kebal terhadap obat Penyakit yang diderita sukar disembuhkan

Apa akibatnya kalau berhenti minum obat sebelum waktunya
• Batuk yang sudah menghilang akan timbul kembali (kambuh)
• Lebih sulit disembuhkan karena kuman-kuman didalam tubuh menjadi kebal terhadap obat yang diberikan

Penderita dengan sakit berat (Dahak Negatif) & penderita dengan Dahak Positif mengandung kuman disediakan obat GRATIS ! di Puskesmas
Bagaimana mencegah agar tidak tertular kepada orang lain
1. Penderita tuberculosa paru:
• Minum obat secara teratur sampai selesai
• Menutup mulut waktu bersin atau batuk
• Tidak meludah di sembarang tempat
• Meludah di tempat yang kena sinar matahari atau di tempat yang diisi sabun atau karbol/lisol
2. Untuk keluarga:
• Jemur tempat tidur bekas penderita secara teratur
• Buka jendela lebar-lebar agar udara segar & sinar matahari dapat masuk
• Kuman TBC akan mati bila terkena sinar matahari

Bagaimana pencegahan yang lain
• Imunisasi pada bayi
• Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi

About these ads
    • ratna galih
    • November 3rd, 2009

    bagaimana mengetahui kita menderita tbc betah bening/organ lain selain paru?karena tidak batuk.dan uji tuberkulin dgn mantoux untuk dewasa apakah berlaku?

    • Rina eka septarini
    • Januari 15th, 2014

    bagaimanakah penanganan pasien TB yg sudah melakukan pengobatan kemudian TB nya masih kambuh lagi????

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: